Search for:
Email

official@spekham.org

Call Center

+62 838-3666-2020

Alamat

Jalan Srikoyo No.20 RT 01 RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta

Kreativitas untuk Perubahan

Kreativitas untuk Perubahan adalah simpul semangat SPEK HAM dalam meretas tantangan sosial secara solutif dan inklusif. Kami percaya bahwa perjuangan menegakkan hak-hak perempuan dan keadilan gender membutuhkan keberanian berpikir di luar batas menghadirkan pendekatan baru yang relevan, komunikatif, dan berdaya guna tinggi demi mewujudkan masyarakat yang adil, aman, dan setara.

Inklusif

Inklusif

Pluralis

Pluralis

Egaliter

Egaliter

image
image
image
image
image
image

Apa yang kami lakukan?

SPEK-HAM bergerak secara inklusif memperjuangkan hak kesehatan perempuan, mencegah dan menangani kekerasan berbasis masyarakat, memperkuat kapasitas internal melalui riset, serta menggalang dukungan untuk keberlanjutan dampak sosial.

Kesehatan Masyarakat

Mewujudkan hak dan akses kesehatan reproduksi yang terjangkau bagi perempuan.

Sustainable Livelihood

Perempuan berdaya mengembangkan potensi lokal untuk kehidupan yang lebih baik

Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat

Mendorong kemandirian masyarakat dalam mencegah kekerasan dan memberikan penanganan yang aman, tanggap, serta berpihak pada korban.

Riset, Institusi, & SDM

Optimalisasi potensi sumber daya manusia dan menyediakan riset kelembagaan untuk mendukung pengambilan keputusan serta keberlanjutan dampak organisasi.

image

Kreativitas Untuk Perubahan

Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia

KABAR TERBARU

Bank Sampah Sekawan: Konsistensi Ubah Sampah Jadi Berkah

Warga RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan berfoto bersama setelah melakukan pemilahan sampah, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut telah konsisten dilakukan sejak 2018, dan berkomitmen untuk terus berlangsung. (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)
Warga RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan berfoto bersama setelah melakukan pemilahan sampah, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut telah konsisten dilakukan sejak 2018, dan berkomitmen untuk terus berlangsung. (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)

SURAKARTA- Sinar matahari merangkak naik menyambut hari bersamaan warga Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan membawa kantong-kantong berisi sampah rumah tangga yang sudah dipilah menuju tempat pumpulan.

 

Pagi itu, Kamis (30/7/2026) antrian mengular diselingi senyum dan senda gurau para warga menanti sampah untuk ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan masing-masing. 8 tahun lamanya kegiatan penimbangan rutin ini berlangsung, menjadi salah satu program dampingan SPEK-HAM yang sampai saat ini terus berjalan.

 

“Komunitas ini sudah konsisten melakukan kegiatan pemilahan sampah. Dari 50 anggota yang terdaftar, 36 diantaranya tercatat aktif menyetorkan sampah secara rutin satu bulan sekali,” ujar Soepadmin, Community Organizer SPEK-HAM Surakarta yang mendampingi komunitas Bank Sampah Sekawan.

 

Soepadmin menyebut konsistensi yang terus terjaga itu menjadi bentuk prestasi tersendiri bagi para anggota komunitas Bank Sampah Sekawan. “Keberadaan bank sampah ini turut memberi arti tersendiri. Selain membantu menjaga lingkungan, program ini juga membuka ruang bagi perempuan untuk berkontribusi secara ekonomi bagi keluarga,” ujar salah seorang anggota.

 

Sampah yang tadinya dianggap tidak bernilai kini bisa diubah menjadi tambahan penghasilan rumah tangga, sekaligus menjadi bentuk nyata bahwa perempuan dapat berdaya dan mandiri secara ekonomi tanpa harus meninggalkan perannya di rumah.

 

Dukungan terhadap keberlanjutan bank sampah ini juga datang dari pemerintah kota. Sunarto, fasilitator dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta menyebut bahwa cara pandang masyarakat terhadap sampah perlu diubah sejak dari cara mengelolanya.

 

“Selama kita mau dan mampu mengolahnya, sampah itu sebenarnya bisa jadi aset. Kalau dibiarkan saja, sampah bisa menjadi liar. Tapi kalau diolah dengan baik, sampah justru bisa menjadi teman,” katanya.

 

Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang terus dijaga oleh Bank Sampah Sekawan, bahwa perubahan besar untuk lingkungan dan ekonomi keluarga bisa dimulai dari langkah sederhana di tingkat rumah tangga. ***

Berdaya Bersama Program ACCESS: 4 Asosiasi UMKM Perempuan Resmi Berdiri di Gunungkidul

Peserta dari empat asosiasi UMKM perempuan tampak antusias mengikuti kegiatan yang difasilitasi program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions) yang berlangsung selama 3 bulan di 4 desa terpisah di Kabupaten Gunungkidul, DIY. (Foto: M.T Huda/SPEK-HAM).
Peserta dari empat asosiasi UMKM perempuan tampak antusias mengikuti kegiatan yang difasilitasi program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions) yang berlangsung selama 3 bulan di 4 desa terpisah di Kabupaten Gunungkidul, DIY. (Foto: M.T Huda/SPEK-HAM).

GUNUNGKIDUL – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendorong kemandirian dan ketahanan ekonomi masyarakat, empat asosiasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan resmi terbentuk di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kehadiran organisasi kolektif ini menjadi langkah awal yang sangat strategis untuk memperkuat kelembagaan pelaku usaha perempuan sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam mengembangkan potensi ekonomi yang inklusif di tingkat desa.

Pembentukan asosiasi ini merupakan bagian dari capaian penting dalam pelaksanaan Program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions). Program ini lahir dari wujud kolaborasi konsorsium antara Habitat for Humanity Indonesia, Yayasan SPEK-HAM, dan Yayasan SAPDA. Dalam kemitraan strategis tersebut, Yayasan SPEK-HAM bertanggung jawab secara langsung mendampingi penguatan kapasitas, kepemimpinan, serta tata kelola kelembagaan agar UMKM perempuan memiliki wadah organisasi yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.

Empat asosiasi yang resmi didirikan meliputi Berkah Mandiri di Kalurahan Pilangrejo, Srikandi UMKM Pengkol di Kalurahan Pengkol, Berkah Nyawiji di Kalurahan Katongan, serta Griya Boga Nglipar di Kalurahan Nglipar. Pembentukan kelembagaan ini tidak dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui serangkaian proses pendampingan partisipatif yang terbagi dalam tiga tahapan pertemuan terstruktur sepanjang bulan April hingga Juni 2026.

Tahapan pendampingan organisasi tersebut dirancang secara sistematis untuk memastikan adanya rasa kepemilikan penuh (ownership) serta partisipasi aktif dari seluruh anggota. Pada pertemuan pertama, kegiatan difokuskan pada pengenalan program, pemetaan aspirasi, serta penguatan pemahaman mengenai manfaat berorganisasi secara kolektif. Tahap kedua dilanjutkan dengan pembentukan struktur kepengurusan secara formal melalui musyawarah, penandatanganan kesepakatan komitmen peserta, serta imbauan pencatatan keuangan dasar usaha. Pertemuan ketiga berfokus pada penyusunan aturan internal organisasi, penetapan mekanisme komunikasi, dan perumusan rencana kerja tahunan.

Melalui diskusi dan kesepakatan bersama, setiap asosiasi berhasil merumuskan agenda kerja prioritas yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah masing-masing. Kegiatan prioritas tersebut meliputi pelaksanaan pertemuan rutin, promosi dan pembuatan katalog produk, penyusunan profil usaha, pencitraan merek (branding) organisasi, inisiatif pemasaran digital, koordinasi dengan pemerintah desa, hingga persiapan legalisasi kelembagaan. Guna memperkuat pijakan evaluasi program di masa depan, pendampingan ini juga dilengkapi dengan pengumpulan data dasar (baseline) kondisi keuangan dan manajemen usaha menggunakan aplikasi Kobo.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, proses pendampingan menghadapi beberapa dinamika teknis, seperti variasi tingkat kehadiran peserta akibat tingginya beban domestik keluarga dan kesibukan usaha harian. Menghadapi tantangan tersebut, tim fasilitator menerapkan pendekatan personal secara individual untuk memastikan seluruh anggota memahami hak, peran, serta manfaat jangka panjang dari Program ACCESS yang akan berlangsung selama tiga tahun ini.

Ke depan, keberadaan asosiasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi tawar pelaku UMKM perempuan dalam menjalin kemitraan strategis dengan pihak pemerintah, dunia usaha, maupun lembaga penyedia layanan keuangan. Pada triwulan berikutnya, Yayasan SPEK-HAM bersama para mitra konsorsium akan melanjutkan pendampingan intensif yang berfokus pada pelaksanaan rencana kerja, penguatan tata kelola administrasi, fasilitasi proses legalisasi badan hukum, serta peningkatan kapasitas manajemen usaha secara berkelanjutan demi mendorong kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.***

 

Jurnalisme Harus Berpihak pada Korban Kekerasan Berbasis Gender (KBG)

Direktur SPEK-HAM, Rahayu Purwaningsih memberi perspektif pencegahan terhadap KBG kepada para jurnalis dan pegiat media pada Sabtu (25/7/2026) bertempat di Hotel Amrani Syariah, Solo. (Foto: Nino Sativara/SPEK-HAM)
Direktur SPEK-HAM, Rahayu Purwaningsih memberi perspektif pencegahan terhadap KBG kepada para jurnalis dan pegiat media pada Sabtu (25/7/2026) bertempat di Hotel Amrani Syariah, Solo. (Foto: Nino Sativara/SPEK-HAM)

SURAKARTA- Secangkir kopi mengawali pagi hari yang tenang para jurnalis di Hotel Amrani Syariah, Solo pada Sabtu (25/7/2026).  Bayang-bayang headline hingga mengejar jumlah kunjungan pembaca web (page view) sementara berhenti sejenak. Akhir pekan yang damai itu, jurnalis bersama pegiat media meluangkan waktu untuk mengikuti pelatihan bertajuk “Perspektif Pencegahan & Penanganan Kekerasan Berbasis Gender (KBG)” bagi insan pers.

 

Acara yang merupakan hasil kolaborasi antara SPEK-HAM dan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Kota Surakarta itu mengajak para wartawan untuk kembali belajar penulisan berita yang berpihak pada korban, khususnya korban kekerasan berbasis gender (KBG). Pada sesi pembuka, Direktur SPEK-HAM, Rahayu Purwaningsih mengungkap fakta mengejutkan mengenai situasi Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang terjadi belakangan ini.

 

“Jumlah data kasus yang dihimpun sumber pemerintah menunjukkan angka yang kecil. Ini berbeda dari temuan riil kami di lapangan, di mana banyak korban enggan melapor, atau bahkan hanya diselesaikan secara kekeluargaan,” ungkap dia.

 

Data yang tidak sinkron ini selain tidak akurat dapat semakin mempersempit ruang bagi para korban untuk mau terbuka dalam melaporkan tindakan KBG yang dialami. Menambahkan keterangannya, Rahayu menyebut jika jurnalis bisa juga menjadi garis depan dalam mendeteksi adanya korban-korban yang belum terjangkau.

 

“Kawan-kawan semua ini jiwa-jiwa intelijennya kuat sekali dalam mencari informasi. Kemampuan itu sangat membantu kami jika nanti saat meliput di lapangan menemukan indikasi adanya korban yang belum terpantau,” tambah Rahayu.

 

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari, hingga Minggu (26/7/2026) itu semakin menarik ketika para jurnalis dihadapkan pada situasi ketika liputan dan menemui korban. Kondisi korban yang rentan, perlu tindakan khusus dalam proses mencari informasi sebelum berita ditayangkan ke publik.

 

“Jurnalis harus berpihak pada korban. Tidak boleh melakukan eksploitasi hanya demi klik belaka, melainkan harus berperspektif untuk melindunginya dari trauma berkelanjutan di kemudian hari karena publikasi media massa,” ungkap Fitri Haryani, Manajer PPKBM SPEK-HAM.

 

Lewat kerja investigasi dan sensitivitas pencarian fakta, jurnalis mampu menembus tembok keheningan, menggali cerita yang terabaikan, dan memberi panggung bagi suara korban yang dibungkam. Media bukan sekadar melaporkan peristiwa, melainkan garda terdepan advokasi.

Ketika jurnalis menghadirkan ruang pemberitaan yang adil, aman, dan berperspektif korban, tulisan tersebut tak hanya mengungkap fakta, tetapi juga mendorong penegakan hukum, mengetuk kepedulian publik, dan membuka jalan keadilan bagi mereka yang tak terdengar.

“Berbicara mengenai topik-topik sensitif, pewarta harus cerdas dan bijaksana dalam memilih diksi. Ini tidak hanya untuk kebijakan redaksional semata, melainkan juga menghormati keberadaan korban, sekaligus menghindari bias-bias yang tidak perlu,” ujar Ayu Prawitasari, Redaktur Solopos yang berkesempatan menjadi narasumber materi etika peliputan jurnalistik pada hari kedua.

Ody, salah seorang pewarta dari kompas.com menyebut partisipasi terhadap pelatihan ini meningkatkan kapasitasnya sebagai asisten redaktur. Selain untuk memperkuat validasi dan verifikasi informasi yang diberikan dari para reporter di lapangan, meja redaksi harus dapat menjembatani peristiwa tanpa mengaburkan fakta dan tetap berpihak pada korban.

“Kasus-kasus KBG ini makin marak diberitakan. Saya pribadi jadi semakin percaya diri dalam melakukan kerja di dapur redaksi setelah mengikuti pelatihan ini, dan ke depan berkomitmen untuk menghindari diksi atau kalimat yang menyudutkan korban,” ungkap dia.

Pingkan, salah seorang peserta dari Ikatan Muda Muhammadiyah mendapatkan perspektif baru berkaitan dengan pencegahan terhadap KBG melalui kerja-kerja jurnalisme. “Saya menjadi paham bahwa pemberitaan terhadap kasus-kasus KBG tak melulu soal klik dan revenue semata. Ada etika dan moral, serta perspesi yang berpihak pada korban agar tidak memperburuk kondisi mereka ke depan,” tegasnya.

Kegiatan pelatihan tersebut difasilitasi oleh UN Trust Fund to End Violence against Women (UN Trust Fund) yang merupakan satu-satunya mekanisme dana hibah global yang didedikasikan secara khusus untuk menangani segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di tingkat lokal, nasional, maupun regional. SPEK-HAM berkomitmen untuk terus melakukan edukasi dan advokasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap perspektif pencegahan dan penanganan KBG. ***

image